Jakarta, 30 Agustus 2026 – Kementerian Pertanian (Kementan) melaporkan sebanyak 3.233 hektare lahan padi di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, berhasil kembali teraliri air setelah terdampak kekeringan akibat fenomena El Nino. Penanganan tersebut dilakukan hingga 29 Agustus 2026 dari total 3.450 hektare lahan yang terdampak di tujuh kecamatan.
Dari keseluruhan lahan terdampak, masih terdapat 217 hektare yang belum sepenuhnya mendapatkan pasokan air dan masih dalam proses penanganan. Pemerintah terus melakukan upaya percepatan agar seluruh lahan dapat teraliri dan tanaman padi tetap terlindungi dari ancaman kekeringan.
Penanganan dilakukan melalui optimalisasi pompanisasi serta normalisasi saluran irigasi. Kedua langkah tersebut menjadi instrumen utama untuk mengalirkan air menuju area persawahan yang mengalami kekurangan pasokan akibat kondisi cuaca.
Di Kecamatan Deket, misalnya, terdapat 397 hektare lahan padi berusia 40 hingga 45 hari setelah tanam yang terdampak kekeringan. Dari jumlah tersebut, sebanyak 380 hektare telah berhasil dialiri air, sementara 17 hektare lainnya masih dalam penanganan.
Sementara itu, Kecamatan Karang Binangun mencatat hasil penanganan yang telah tuntas. Dari total 248 hektare lahan terdampak dengan usia tanaman sekitar 30 hingga 40 hari setelah tanam, seluruh area telah mendapatkan pasokan air.
Kondisi serupa terjadi di Kecamatan Glagah. Sebanyak 15 hektare lahan padi yang terdampak kekeringan dan memiliki usia tanaman 46 hingga 60 hari setelah tanam telah berhasil teraliri seluruhnya.
Capaian terbesar tercatat di Kecamatan Kalitengah. Sebanyak 1.855 hektare lahan dengan usia tanaman nol hingga 40 hari setelah tanam berhasil ditangani sepenuhnya melalui kombinasi pompanisasi dan normalisasi saluran irigasi.
Penanganan juga telah diselesaikan di Kecamatan Sukodadi. Dari 50 hektare lahan terdampak dengan usia tanaman 25 hingga 30 hari setelah tanam, seluruh lahan telah mendapatkan aliran air.
Namun, masih terdapat sejumlah wilayah yang membutuhkan penanganan lanjutan. Kecamatan Turi menjadi salah satu wilayah dengan lahan terdampak terbesar yang belum seluruhnya tertangani.
Dari total 791 hektare lahan padi berusia nol hingga 45 hari setelah tanam di Kecamatan Turi, sebanyak 622 hektare telah berhasil dialiri. Sementara itu, 169 hektare lainnya masih membutuhkan penanganan lebih lanjut.
Di Kecamatan Sugio, dari total 94 hektare lahan terdampak dengan usia tanaman 25 hingga 45 hari setelah tanam, sebanyak 63 hektare telah mendapatkan pasokan air. Sebanyak 31 hektare sisanya masih dalam proses penanganan.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan pemerintah telah menyiapkan strategi menghadapi ancaman kekeringan akibat El Nino sejak awal pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Langkah mitigasi tersebut dilakukan untuk menjaga musim tanam petani sekaligus mempertahankan produksi pangan.
Menurut Amran, pompanisasi dan perbaikan jaringan irigasi menjadi bagian penting dalam menghadapi ancaman kekeringan. Pemerintah berupaya memastikan persoalan air di lahan pertanian dapat segera ditangani sebelum berkembang menjadi gangguan yang lebih serius terhadap produksi.
Penanganan di Lamongan juga melibatkan koordinasi lintas instansi. Kementan bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum, Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo, Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air Jawa Timur, serta pemerintah Kabupaten Lamongan.
Dinas pertanian di tingkat provinsi dan kabupaten turut terlibat dalam proses tersebut. Koordinasi juga diperkuat bersama jajaran yang bertanggung jawab terhadap program swasembada pangan di Jawa Timur dan Kabupaten Lamongan.
Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kementan Arief Cahyono mengatakan capaian pengairan 3.233 hektare dari total 3.450 hektare lahan terdampak menunjukkan respons cepat jajaran di lapangan. Sisa lahan yang belum tertangani, terutama di Kecamatan Turi dan Sugio, terus dikawal agar dapat segera dialiri.
Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan Pemerintah Kabupaten Lamongan juga akan terus berkoordinasi dengan Kementan untuk memastikan seluruh lahan terdampak memperoleh pasokan air. Upaya tersebut dilakukan agar tanaman padi yang sedang dalam masa pertumbuhan tetap dapat dipertahankan.
Kondisi ini menunjukkan pentingnya kesiapan infrastruktur pengairan ketika fenomena El Nino meningkatkan risiko kekeringan di wilayah sentra pertanian. Pompanisasi menjadi salah satu solusi cepat untuk mengalirkan sumber air ke lahan, sementara normalisasi saluran dilakukan untuk memastikan distribusi air dapat berlangsung lebih optimal.
Dengan 3.233 hektare dari 3.450 hektare lahan terdampak telah kembali teraliri, sebagian besar sawah di Lamongan kini berhasil diamankan dari ancaman kekeringan. Pemerintah masih mengejar penyelesaian 217 hektare lahan yang tersisa agar seluruh area terdampak dapat memperoleh pasokan air dan musim tanam petani tetap berjalan.