Pekalongan, 16 September 2026 – Penampilan Tim Simone atau Simbang Gang One dalam Simbang Kulon Night Carnival (SKNC) 2026 di Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, menjadi perbincangan setelah potongan videonya viral di media sosial. Pertunjukan tersebut menampilkan sejumlah peserta dengan kostum menyeramkan, peti, kepala kambing, serta adegan penyembelihan hewan. Kombinasi elemen visual tersebut membuat sebagian warganet menganggap penampilan itu menyerupai ritual satanik. Tim Simone kemudian memberikan klarifikasi dan membantah anggapan tersebut. Mereka menegaskan tidak pernah mempunyai niat untuk membawakan, memperagakan, maupun merepresentasikan ritual satanik dalam pertunjukan. Tim juga menyampaikan permintaan maaf apabila konsep yang dibawakan menimbulkan keresahan maupun persepsi berbeda di masyarakat.
Kontroversi bermula dari penampilan Tim Simone dalam SKNC yang berlangsung pada Kamis malam, 10 September 2026. Video yang beredar memperlihatkan peserta menggunakan kostum dengan karakter visual gelap dan sejumlah properti yang kemudian memancing berbagai interpretasi. Salah satu bagian yang paling mendapatkan perhatian adalah kemunculan kepala kambing dari dalam sebuah peti. Adegan penyembelihan kambing dalam rangkaian penampilan semakin membuat video tersebut ramai diperbincangkan. Potongan video kemudian menyebar melalui berbagai platform media sosial tanpa selalu disertai penjelasan mengenai konsep pertunjukan. Situasi tersebut membuat muncul berbagai dugaan mengenai maksud di balik penampilan Tim Simone.
Perwakilan Tim Simone, M Akhid, menjelaskan bahwa konsep pertunjukan sebenarnya berasal dari sejumlah referensi karnaval yang mereka temukan melalui video di internet. Tim tertarik setelah melihat kostum yang dianggap unik dalam beberapa pertunjukan dari daerah lain. Kostum yang digunakan kemudian disewa dari Malang, Jawa Timur. Sementara gerakan dan koreografi dipelajari bersama oleh anggota tim dengan melihat sejumlah referensi penampilan. Persiapan konsep tersebut dilakukan sekitar satu pekan sebelum mereka tampil dalam SKNC. Akhid mengakui pihaknya kurang memahami konteks maupun interpretasi yang dapat muncul dari kombinasi kostum dan gerakan tersebut.
Tim Simone juga memberikan penjelasan khusus mengenai adegan penyembelihan kambing yang menjadi salah satu bagian paling banyak dipersoalkan. Mereka menyatakan penyembelihan tersebut bukan dilakukan sebagai persembahan maupun bagian dari ritual tertentu. Kambing memang direncanakan untuk disembelih dan dagingnya kemudian digunakan sebagai konsumsi bersama setelah seluruh rangkaian kegiatan selesai. Menurut pihak tim, penyembelihan dilakukan menggunakan tata cara yang mereka pahami sesuai syariat. Orang yang melakukan penyembelihan juga disebut mempunyai kemampuan untuk menjalankan proses tersebut. Dengan penjelasan itu, Tim Simone membantah anggapan bahwa penyembelihan mempunyai hubungan dengan praktik satanik.
Kemunculan kepala kambing dari dalam peti juga mendapatkan klarifikasi terpisah. Tim Simone menjelaskan kepala kambing tersebut bukan berasal dari hewan yang baru disembelih ketika pertunjukan berlangsung. Kepala kambing yang digunakan sebagai properti sebelumnya dibeli dari pasar dan kemudian ditempatkan di dalam peti sebagai bagian dari konsep visual penampilan. Sementara kepala dari kambing yang benar-benar disembelih disebut masih tetap menempel pada tubuh hewan tersebut. Penjelasan itu disampaikan untuk meluruskan anggapan bahwa kepala hewan dipotong kemudian digunakan sebagai bagian dari ritual. Tim menyatakan properti tersebut semata-mata digunakan untuk mendukung pertunjukan.
Tim Simone mengakui bahwa kurangnya pemahaman terhadap referensi yang digunakan menjadi salah satu penyebab munculnya kontroversi. Akhid menyampaikan penyesalan karena konsep yang dianggap menarik secara visual ternyata dapat mempunyai makna berbeda bagi masyarakat. Tim sebelumnya melihat berbagai pertunjukan karnaval dari Malang maupun daerah lain dan kemudian menggabungkan sejumlah elemen yang dianggap menarik. Namun, mereka tidak melakukan pendalaman yang memadai mengenai simbol maupun karakter visual yang digunakan. Kondisi tersebut membuat penampilan akhirnya dipersepsikan secara berbeda ketika video beredar luas. Tim kemudian meminta maaf kepada pihak-pihak yang merasa terganggu atau tersinggung.
Panitia SKNC juga menyampaikan permohonan maaf atas kontroversi yang muncul. Perwakilan panitia mengakui masih terdapat kekurangan dalam pengawasan terhadap konsep yang dibawakan peserta. Penjelasan juga diberikan mengenai konteks penyelenggaraan acara karena sempat muncul informasi yang menghubungkan karnaval dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Panitia menegaskan SKNC 2026 bukan bagian dari peringatan Maulid Nabi. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari tradisi tahunan yang berkaitan dengan penyelenggaraan khitanan massal di Simbang Kulon. Klarifikasi itu dianggap penting karena informasi mengenai konteks acara turut memengaruhi respons masyarakat terhadap video yang viral.
Pemerintah Kabupaten Pekalongan ikut memberikan perhatian setelah polemik tersebut berkembang luas. Tim Simone kemudian memberikan keterangan setelah berkoordinasi dengan pihak pemerintah daerah. Penjelasan mengenai penyembelihan kambing juga disampaikan untuk memastikan masyarakat mendapatkan konteks yang lebih lengkap. Hewan tersebut disebut memang dipersiapkan untuk diolah menjadi makanan dan disantap bersama seusai acara. Pemerintah daerah juga mengingatkan pentingnya sensitivitas ketika membuat sebuah pertunjukan yang dapat disaksikan masyarakat luas. Sebuah konsep visual dapat menghasilkan interpretasi berbeda ketika tidak mempunyai penjelasan yang memadai.
Viralnya video tersebut menunjukkan bagaimana potongan visual di media sosial dapat berkembang menjadi perdebatan dalam waktu singkat. Penonton yang hanya melihat beberapa bagian pertunjukan dapat memperoleh kesan berbeda dibandingkan pihak yang mengetahui keseluruhan rangkaian kegiatan. Kostum menyeramkan, kepala kambing, peti, serta penyembelihan hewan menjadi elemen yang mudah menghasilkan interpretasi kuat ketika ditampilkan secara bersamaan. Ketika video kemudian dipotong dan dibagikan ulang, konteks awal juga dapat semakin berkurang. Tim Simone menyadari kondisi tersebut setelah respons masyarakat berkembang jauh lebih luas dibandingkan perkiraan mereka. Klarifikasi kemudian disampaikan untuk menjelaskan tujuan sebenarnya dari pertunjukan.
Kontroversi tersebut juga menjadi evaluasi bagi penyelenggara kegiatan seni dan karnaval mengenai pentingnya memahami referensi sebelum mengadaptasinya. Konsep yang berasal dari pertunjukan lain tidak selalu dapat digunakan secara langsung tanpa memahami latar belakang simbol, kostum, maupun gerakan yang ditampilkan. Perbedaan budaya dan persepsi masyarakat dapat menghasilkan interpretasi yang tidak diperkirakan sebelumnya. Terlebih, dokumentasi kegiatan saat ini dapat menyebar jauh melampaui lokasi acara melalui media sosial. Sebuah pertunjukan lokal dapat disaksikan jutaan pengguna internet hanya dalam waktu singkat. Karena itu, literasi mengenai konsep menjadi bagian penting dalam proses kreatif.
Tim Simone sendiri tidak menyangkal bahwa pertunjukan mereka menggunakan elemen visual yang akhirnya menimbulkan kontroversi. Namun, mereka membantah kesimpulan bahwa elemen tersebut sengaja digunakan untuk memperagakan ritual satanik. Tim menyatakan ketertarikan mereka sejak awal lebih kepada keunikan kostum dan penampilan yang ditemukan dari sejumlah referensi. Kurangnya pemahaman mengenai kemungkinan makna simbolik kemudian diakui sebagai kekurangan. Permintaan maaf disampaikan sebagai bentuk tanggung jawab terhadap keresahan yang muncul. Mereka juga memberikan penjelasan mengenai setiap elemen yang paling banyak mendapatkan perhatian masyarakat.
Klarifikasi mengenai kepala kambing menjadi salah satu bagian penting karena properti tersebut menjadi visual yang paling banyak beredar. Menurut Tim Simone, kepala tersebut telah dibeli sebelumnya di pasar sehingga tidak berasal dari proses penyembelihan yang dilakukan saat pertunjukan. Sementara kambing yang disembelih pada kegiatan tersebut ditujukan untuk konsumsi bersama. Penjelasan mengenai dua hal tersebut diharapkan dapat memisahkan antara properti pertunjukan dengan kegiatan penyembelihan hewan. Tim kembali menegaskan tidak terdapat maksud melakukan persembahan atau ritual tertentu. Meski demikian, mereka menerima kritik mengenai konsep visual yang dipilih.
Setelah penampilan tersebut viral, Tim Simone dan panitia menjadikan polemik sebagai bahan evaluasi terhadap kegiatan berikutnya. Pengawasan terhadap konsep peserta dinilai perlu diperkuat agar materi pertunjukan dapat dipahami sebelum ditampilkan kepada masyarakat. Peserta juga perlu mempunyai pemahaman lebih baik mengenai simbol dan referensi yang digunakan dalam proses kreatif. Penyelenggara mempunyai peranan memastikan kebebasan berekspresi tetap mempertimbangkan karakter masyarakat yang menjadi penonton. Evaluasi tersebut menjadi penting agar kegiatan budaya dan hiburan tetap dapat berkembang tanpa menimbulkan kesalahpahaman yang sebenarnya dapat dihindari. Komunikasi mengenai tema pertunjukan juga dapat membantu memberikan konteks kepada penonton.
Tim Simone pada akhirnya menegaskan penampilan mereka dalam Simbang Kulon Night Carnival 2026 tidak dimaksudkan sebagai ritual satanik sebagaimana yang ramai dibicarakan di media sosial. Konsep tersebut disebut berasal dari adaptasi berbagai pertunjukan yang ditemukan melalui video daring, sementara kostumnya disewa dari Malang. Kepala kambing yang terlihat dalam peti disebut sebagai properti yang sebelumnya dibeli dari pasar, sedangkan kambing yang disembelih ditujukan untuk konsumsi bersama setelah kegiatan. Tim mengakui kurangnya literasi terhadap referensi yang mereka gunakan dan menyampaikan permintaan maaf atas keresahan yang muncul. Panitia juga melakukan hal serupa sekaligus meluruskan konteks penyelenggaraan SKNC 2026. Polemik tersebut kini menjadi evaluasi agar konsep pertunjukan berikutnya dipersiapkan dengan pemahaman yang lebih matang.