Peshawar, 16 Oktober 2026 – Tragedi memilukan terjadi di Pakistan setelah atap sebuah sekolah swasta di Kota Peshawar, Provinsi Khyber Pakhtunkhwa, runtuh dan menewaskan puluhan siswa serta seorang guru pada Kamis, 15 Oktober 2026. Jumlah korban meninggal yang semula dilaporkan sebanyak 33 orang kemudian bertambah menjadi sedikitnya 35 orang, terdiri atas 34 siswa dan seorang guru perempuan. Insiden tersebut terjadi ketika kegiatan belajar mengajar sedang berlangsung dan sebagian besar korban masih berusia anak-anak. Selain korban meninggal, puluhan siswa lainnya mengalami luka-luka akibat tertimpa material bangunan yang runtuh. Peristiwa ini menimbulkan duka mendalam sekaligus memunculkan pertanyaan mengenai keamanan bangunan sekolah di Pakistan.
Kejadian berlangsung di Al-Khair Education Centre, sebuah sekolah swasta yang berada di kawasan permukiman padat penduduk di Peshawar. Berdasarkan keterangan petugas penyelamat, atap bangunan runtuh sekitar pukul 08.48 waktu setempat ketika para siswa sedang mengikuti pelajaran pagi. Bagian atap dari lantai atas jatuh dan menghantam ruang kelas di bawahnya sehingga menyebabkan kerusakan pada dua tingkat bangunan. Saat kejadian, sekitar 110 siswa diketahui sedang mengikuti kegiatan pembelajaran di tiga ruang kelas. Sebagian anak berhasil menyelamatkan diri, sementara lainnya terjebak di bawah reruntuhan beton, batu bata, dan material bangunan. Suara runtuhan yang keras membuat warga sekitar bergegas menuju lokasi untuk memberikan pertolongan sebelum seluruh petugas penyelamat tiba.
Proses evakuasi berlangsung dalam suasana penuh kepanikan karena banyak orang tua mendatangi sekolah untuk mencari anak-anak mereka. Petugas penyelamat bersama warga berusaha memindahkan material bangunan yang menimpa ruang kelas agar korban dapat segera dikeluarkan. Sejumlah anak ditemukan dalam kondisi terluka dan langsung dibawa menuju ambulans untuk mendapatkan penanganan medis. Operasi penyelamatan melibatkan puluhan personel dengan dukungan kendaraan darurat dan peralatan khusus untuk membersihkan reruntuhan. Tim penyelamat membutuhkan waktu sekitar empat hingga lima jam untuk mengevakuasi korban serta memastikan tidak ada siswa yang masih terjebak. Setelah pemeriksaan menyeluruh dilakukan, petugas menyatakan seluruh korban yang berada di bawah material bangunan telah berhasil dikeluarkan.
Sebagian besar korban dibawa ke Lady Reading Hospital di Peshawar untuk memperoleh perawatan darurat. Pihak rumah sakit menyampaikan bahwa korban meninggal didominasi anak-anak berusia sekitar enam hingga 14 tahun, termasuk sejumlah siswi perempuan. Sedikitnya 45 anak dilaporkan mengalami cedera dengan tingkat keparahan berbeda, mulai dari luka ringan hingga trauma kepala serius. Beberapa korban harus menjalani perawatan intensif karena kondisi kesehatan mereka belum stabil setelah tertimpa reruntuhan. Rumah sakit juga meningkatkan kesiapan pelayanan untuk menangani banyaknya pasien yang datang dalam waktu hampir bersamaan. Sementara itu, keluarga korban berkumpul di sekitar fasilitas kesehatan untuk memperoleh informasi mengenai kondisi anak-anak mereka.
Penyelidikan awal kepolisian mengarah pada dugaan lemahnya struktur bangunan sebagai penyebab utama ambruknya atap sekolah. Kepala Kepolisian Peshawar, Mian Saeed, menjelaskan bahwa konstruksi bangunan diduga tidak memiliki kekuatan memadai untuk menopang beban yang berada di bagian atas. Struktur atap yang menerima beban berlebihan diperkirakan menjadi salah satu faktor yang menyebabkan keruntuhan berantai hingga menghancurkan ruang kelas di bawahnya. Aparat kemudian menangkap pemilik sekolah untuk menjalani pemeriksaan terkait dugaan kelalaian dalam pengelolaan dan keamanan bangunan. Pemilik sekolah disebut mengaitkan keruntuhan dengan hujan yang terjadi sebelumnya dan diduga melemahkan kondisi atap. Namun, penyebab pasti kecelakaan masih harus ditentukan melalui penyelidikan teknis serta pemeriksaan terhadap standar konstruksi bangunan.
Pemerintah Provinsi Khyber Pakhtunkhwa mengambil langkah lanjutan dengan membentuk tim pemeriksa untuk menyelidiki penyebab tragedi tersebut. Pemeriksaan tidak hanya diarahkan pada bangunan sekolah yang runtuh, tetapi juga pada kemungkinan adanya pelanggaran ketentuan keselamatan dan penggunaan material konstruksi yang tidak memenuhi standar. Pemerintah daerah turut mendorong pemeriksaan keamanan bangunan pendidikan lainnya untuk mencegah kejadian serupa. Langkah tersebut dianggap penting karena sejumlah fasilitas pendidikan swasta beroperasi di bangunan yang awalnya tidak dirancang khusus sebagai sekolah. Kondisi ruang belajar yang padat dan keterbatasan sarana keselamatan dapat meningkatkan risiko ketika terjadi kerusakan struktur. Hasil penyelidikan diharapkan dapat menjadi dasar penentuan tanggung jawab hukum sekaligus perbaikan sistem pengawasan fasilitas pendidikan.
Presiden Pakistan Asif Ali Zardari dan Perdana Menteri Shehbaz Sharif menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban atas tragedi yang merenggut nyawa puluhan anak sekolah tersebut. Pemerintah pusat meminta agar seluruh korban luka mendapatkan pelayanan medis yang diperlukan dan proses penyelidikan dilakukan secara menyeluruh. Peristiwa ini juga kembali mengingatkan masyarakat terhadap sejumlah kasus runtuhnya bangunan di Pakistan dalam beberapa tahun terakhir. Pada Juni 2026, insiden serupa terjadi di sebuah pusat pendidikan di Lahore dan menyebabkan sejumlah anak kehilangan nyawa. Persoalan kualitas material, usia bangunan, serta lemahnya pengawasan konstruksi menjadi perhatian yang terus muncul setelah kecelakaan semacam ini. Karena itu, masyarakat mendesak adanya tindakan nyata agar standar keselamatan bangunan pendidikan diterapkan secara lebih ketat.
Tragedi runtuhnya atap Al-Khair Education Centre menjadi salah satu kecelakaan bangunan sekolah paling mematikan di Pakistan. Bertambahnya jumlah korban meninggal menjadi sedikitnya 35 orang memperlihatkan besarnya dampak kegagalan struktur bangunan terhadap keselamatan anak-anak. Selain memberikan bantuan kepada keluarga korban, pemerintah menghadapi tuntutan untuk memastikan seluruh sekolah memiliki fasilitas yang aman dan layak digunakan. Pemeriksaan berkala, penegakan aturan konstruksi, serta pengawasan terhadap bangunan yang digunakan sebagai ruang belajar menjadi langkah penting untuk mencegah tragedi serupa. Aparat kepolisian masih mendalami kemungkinan adanya kelalaian pihak pengelola sekolah maupun pihak lain yang bertanggung jawab terhadap kondisi bangunan. Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa keselamatan siswa dan tenaga pendidik harus menjadi prioritas utama dalam penyelenggaraan pendidikan di setiap wilayah.