Jakarta, 4 Oktober 2026 – Kebiasaan berolahraga pada malam hari semakin banyak dilakukan masyarakat, terutama mereka yang memiliki aktivitas padat sejak pagi hingga sore. Dokter sekaligus pegiat olahraga Tirta Mandira Hudhi atau Dokter Tirta menilai olahraga malam pada dasarnya tetap dapat memberikan manfaat bagi tubuh. Waktu latihan bukan satu-satunya faktor yang menentukan baik atau buruknya aktivitas fisik. Kondisi tubuh, intensitas latihan, pola makan, serta waktu istirahat setelah berolahraga juga perlu diperhatikan.
Menurut Dokter Tirta, olahraga pada malam hari menjadi pilihan yang masuk akal bagi pekerja yang sulit menyediakan waktu pada pagi atau siang hari. Aktivitas fisik secara rutin tetap lebih baik dibandingkan tidak berolahraga hanya karena tidak mempunyai waktu pada pagi hari. Meski demikian, seseorang perlu mengenali kemampuan tubuh dan tidak memaksakan latihan berat ketika sudah mengalami kelelahan setelah beraktivitas sepanjang hari. Tubuh tetap membutuhkan pemulihan yang cukup agar manfaat olahraga dapat diperoleh secara optimal.
Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah jarak antara olahraga dan waktu tidur. Latihan dengan intensitas tinggi dapat meningkatkan denyut jantung, suhu tubuh, serta membuat tubuh berada dalam kondisi lebih aktif untuk sementara waktu. Pada sebagian orang, kondisi tersebut dapat membuat proses untuk tertidur menjadi lebih sulit apabila latihan berat dilakukan terlalu dekat dengan jam tidur. Karena itu, intensitas dan waktu olahraga sebaiknya disesuaikan dengan respons tubuh masing-masing.
Dokter Tirta juga menekankan pentingnya memahami bahwa kebutuhan setiap orang berbeda. Ada orang yang tetap dapat tidur dengan nyaman setelah berolahraga pada malam hari, sementara sebagian lainnya membutuhkan waktu lebih panjang untuk menenangkan tubuh. Aktivitas dengan intensitas ringan hingga sedang umumnya lebih mudah disesuaikan ketika dilakukan menjelang malam. Sebaliknya, latihan sangat berat perlu diatur agar tidak mengganggu waktu pemulihan dan kualitas tidur.
Selain waktu latihan, asupan makanan dan cairan turut menjadi perhatian. Tubuh membutuhkan cairan yang cukup untuk menggantikan kehilangan akibat keringat selama berolahraga. Namun, konsumsi makanan dalam jumlah besar tepat sebelum tidur juga dapat menimbulkan rasa tidak nyaman pada sebagian orang. Pengaturan makan, hidrasi, latihan, dan istirahat perlu dilakukan secara seimbang agar olahraga malam tidak justru membuat tubuh terasa lebih lelah pada hari berikutnya.
Kualitas tidur tetap menjadi salah satu komponen penting dalam proses pemulihan tubuh setelah olahraga. Orang dewasa pada umumnya membutuhkan sekitar tujuh hingga sembilan jam tidur setiap malam, meskipun kebutuhan individual dapat berbeda. Kurang tidur secara berulang dapat mengganggu pemulihan, konsentrasi, dan performa fisik. Karena itu, seseorang yang memilih berolahraga malam tetap perlu memastikan aktivitas tersebut tidak terus-menerus memangkas waktu tidurnya.
Olahraga malam dengan demikian tidak otomatis berbahaya bagi tubuh. Bagi masyarakat yang hanya memiliki waktu setelah bekerja, aktivitas fisik pada malam hari tetap dapat menjadi bagian dari pola hidup aktif selama dilakukan secara terukur dan disertai pemulihan memadai. Intensitas latihan perlu disesuaikan dengan kondisi fisik, sementara respons tubuh dan kualitas tidur dapat menjadi indikator apakah jadwal tersebut cocok. Konsistensi berolahraga, kecukupan istirahat, dan kemampuan mengenali batas tubuh menjadi hal yang lebih penting daripada sekadar menentukan olahraga harus dilakukan pagi atau malam.