Jakarta, 27 Agustus 2026 – Surat An-Nasr merupakan surah ke-110 dalam Al-Qur’an yang memiliki makna mendalam dalam perjalanan dakwah Rasulullah SAW. Surah yang terdiri atas tiga ayat ini tidak hanya berbicara mengenai pertolongan Allah SWT dan kemenangan Islam, tetapi juga dipahami para ulama sebagai salah satu isyarat mengenai semakin dekatnya wafat Rasulullah SAW.
Surat An-Nasr termasuk surah yang memiliki kedudukan istimewa karena turun menjelang akhir kehidupan Rasulullah SAW. Kandungannya menggambarkan datangnya pertolongan Allah, kemenangan, serta manusia yang berbondong-bondong masuk ke dalam agama Islam.
Allah SWT berfirman dalam Surat An-Nasr:
“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan engkau melihat manusia berbondong-bondong masuk agama Allah, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sungguh, Dia Maha Penerima Tobat.”
Makna Surat An-Nasr
Surat An-Nasr diawali dengan kabar mengenai pertolongan dan kemenangan dari Allah SWT. Dalam konteks sejarah dakwah Rasulullah SAW, kemenangan tersebut dikaitkan dengan semakin kuatnya Islam dan keberhasilan dakwah Nabi Muhammad SAW.
Kemenangan Islam membuat masyarakat Arab datang secara berkelompok untuk memeluk Islam. Kondisi tersebut menunjukkan perubahan besar dibandingkan masa awal dakwah ketika Rasulullah SAW menghadapi penolakan dan berbagai tekanan.
Namun, setelah menyampaikan kabar kemenangan, Allah SWT justru memerintahkan Rasulullah SAW untuk memperbanyak tasbih dan memohon ampun.
Pesan tersebut menjadi bagian penting dari kandungan surah. Ketika keberhasilan telah diraih, seorang Muslim tidak seharusnya hanya merayakan pencapaian, tetapi juga semakin menyadari kebesaran Allah SWT.
Mengapa Dikaitkan dengan Wafat Rasulullah?
Hubungan Surat An-Nasr dengan wafat Rasulullah SAW dijelaskan berdasarkan pemahaman para sahabat terhadap surah tersebut.
Ibnu Abbas RA pernah menjelaskan bahwa ketika Surat An-Nasr turun, sebagian sahabat memahami surah itu sebagai kabar mengenai kemenangan Islam. Namun, Ibnu Abbas RA memahami adanya pesan lain di dalamnya, yaitu bahwa surah tersebut merupakan tanda dekatnya ajal Rasulullah SAW.
Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari, Ibnu Abbas RA menjelaskan bahwa Umar bin Khattab RA pernah mengajaknya dalam sebuah majelis yang dihadiri para sahabat senior. Ketika ditanya mengenai Surat An-Nasr, Ibnu Abbas menjawab bahwa surah tersebut merupakan tanda ajal Rasulullah SAW.
Menurut penjelasan tersebut, ketika pertolongan Allah dan kemenangan telah sempurna serta manusia berbondong-bondong masuk Islam, tugas Rasulullah SAW dalam menyampaikan risalah telah mendekati kesempurnaan.
Perintah untuk bertasbih dan memohon ampun kemudian dipahami sebagai petunjuk agar Rasulullah SAW bersiap menghadapi akhir kehidupannya.
Turun Menjelang Akhir Masa Kenabian
Surat An-Nasr turun pada periode akhir kehidupan Rasulullah SAW. Karena itu, kandungannya memiliki hubungan erat dengan fase penyempurnaan dakwah Islam.
Setelah bertahun-tahun menyampaikan risalah, Rasulullah SAW telah melihat Islam berkembang jauh lebih luas. Makkah telah berada dalam kekuasaan kaum Muslim setelah Fathu Makkah, sementara berbagai kabilah Arab mulai menerima Islam.
Dalam situasi tersebut, Surat An-Nasr memberikan gambaran mengenai berakhirnya sebuah fase besar perjuangan Rasulullah SAW.
Kemenangan yang disebutkan dalam surah bukan hanya kemenangan dalam arti politik atau militer. Lebih luas, kemenangan tersebut menggambarkan tersebarnya Islam dan diterimanya ajaran Rasulullah SAW oleh masyarakat Arab.
Pesan untuk Memperbanyak Tasbih dan Istighfar
Salah satu pelajaran utama Surat An-Nasr adalah pentingnya tasbih dan istighfar setelah memperoleh keberhasilan.
Allah SWT tidak memerintahkan Rasulullah SAW untuk menyombongkan kemenangan. Sebaliknya, beliau diperintahkan untuk bertasbih dengan memuji-Nya dan memohon ampun.
Pesan tersebut juga relevan bagi kehidupan umat Islam. Ketika mendapatkan keberhasilan, seseorang dianjurkan tetap rendah hati dan mengingat bahwa segala nikmat serta pertolongan berasal dari Allah SWT.
Istighfar juga mengajarkan bahwa manusia tidak pernah lepas dari kekurangan. Bahkan setelah melakukan kebaikan atau mencapai keberhasilan, seorang Muslim tetap dianjurkan memohon ampun kepada Allah.
Wafat Rasulullah SAW
Rasulullah SAW kemudian wafat pada 12 Rabiul Awal tahun 11 Hijriah, menurut pendapat yang masyhur dalam sejarah Islam. Beliau wafat di Madinah setelah mengalami sakit pada akhir kehidupannya.
Sebelum wafat, Rasulullah SAW telah menyampaikan banyak pesan kepada umatnya dan menyempurnakan tugas penyampaian risalah.
Surat An-Nasr kemudian dikenang sebagai salah satu surah yang memberikan isyarat mengenai berakhirnya masa tugas Rasulullah SAW di dunia.
Kisah mengenai pemahaman Ibnu Abbas RA terhadap surah tersebut juga menunjukkan kedalaman pemahaman para sahabat terhadap Al-Qur’an. Sebuah surah yang secara lahiriah berbicara tentang kemenangan ternyata juga memiliki pesan mengenai perjalanan kehidupan Rasulullah SAW yang mendekati akhir.
Pada akhirnya, Surat An-Nasr mengajarkan bahwa kemenangan bukan alasan untuk terlena atau menyombongkan diri. Justru ketika pertolongan dan keberhasilan datang, manusia diperintahkan untuk semakin banyak mengingat Allah SWT, memuji-Nya, serta memohon ampun.
Bagi umat Islam, surah singkat yang hanya terdiri dari tiga ayat ini menjadi pengingat bahwa setiap keberhasilan memiliki tanggung jawab, sementara kehidupan manusia pada akhirnya akan kembali kepada Allah SWT.