Jakarta, 29 September 2026 –
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyatakan lebih dari 8.000 tentara Korea Utara saat ini berada di wilayah Rusia. Ia juga mengklaim sekitar 10.000 personel tambahan tengah dipersiapkan untuk dikerahkan ke Rusia. Pernyataan itu disampaikan Zelensky pada Senin (28/9) dengan mengutip data terbaru yang diterimanya dari intelijen pertahanan Ukraina. Menurut Zelensky, personel tambahan tersebut sedang melalui proses seleksi sebelum mengikuti pelatihan dan kemudian dikerahkan.
Zelensky mengatakan pengerahan tambahan tersebut menjadi bagian dari peningkatan kerja sama militer antara Moskow dan Pyongyang. Namun, angka mengenai jumlah pasukan Korea Utara yang disampaikan Presiden Ukraina merupakan klaim berdasarkan informasi intelijen Kyiv dan belum dapat diverifikasi secara independen. Ukraina dan Korea Selatan sebelumnya memperkirakan Korea Utara telah mengirim sekitar 14.000 hingga 15.000 tentara untuk mendukung Rusia sejak 2024. Sebagian besar personel tersebut disebut ditempatkan di wilayah Kursk untuk membantu pasukan Rusia.
Selain mengirim personel, Pyongyang disebut telah memberikan dukungan persenjataan kepada Rusia selama perang berlangsung. Penilaian Ukraina dan sejumlah pihak independen menyebut dukungan itu mencakup jutaan amunisi artileri dan mortir, rudal balistik, sistem artileri jarak jauh, serta peluncur roket ganda. Zelensky juga mengeklaim Rusia memberikan dukungan teknologi sebagai imbalan atas bantuan militer Korea Utara. Salah satu bentuk dukungan tersebut, menurutnya, adalah bantuan teknis untuk membangun kemampuan produksi drone serang tipe Shahed di Korea Utara.
Pernyataan mengenai tentara Korea Utara muncul bersamaan dengan klaim Zelensky bahwa Rusia sedang meningkatkan perekrutan personel militernya. Berdasarkan laporan intelijen yang diterimanya, Moskow disebut memperbesar jumlah orang yang direkrut melalui berbagai mekanisme sekaligus meningkatkan perekrutan warga asing. Zelensky meminta pemerintah negara-negara asal para calon personel tersebut mengambil langkah untuk mencegah warganya bergabung dengan militer Rusia. Sementara itu, Presiden Rusia Vladimir Putin sebelumnya menolak anggapan bahwa pemerintahannya sedang mempersiapkan mobilisasi baru.
Perkembangan tersebut terjadi ketika hubungan Ukraina dan Korea Selatan juga menjadi perhatian. Kyiv pekan lalu mengumumkan telah memindahkan dua tentara Korea Utara yang sebelumnya ditangkap Ukraina ke Korea Selatan. Pemerintah Seoul kemudian menyampaikan penyesalan atas pengumuman tersebut karena menyatakan terdapat kesepakatan untuk menjaga kerahasiaan proses pemindahan. Pihak Ukraina dan Korea Selatan juga berbeda pandangan mengenai ada atau tidaknya kesepakatan kerahasiaan tersebut.
Korea Selatan sebelumnya mengumumkan paket bantuan senilai 100 juta dolar AS untuk Ukraina pada Juli 2026. Paket tersebut tidak mencakup persenjataan mematikan. Pada Agustus, Zelensky juga pernah menyatakan kemungkinan hingga 50.000 tentara Korea Utara dapat dikirim untuk membantu Rusia dan meminta Seoul meningkatkan dukungan terhadap kemampuan pertahanan udara Ukraina. Pernyataan terbaru mengenai tambahan 10.000 personel menunjukkan Kyiv masih melihat keterlibatan Pyongyang sebagai salah satu faktor penting dalam perkembangan perang.
Belum ada konfirmasi independen mengenai jadwal maupun lokasi penempatan 10.000 personel tambahan yang disebut Zelensky. Karena informasi tersebut berasal dari intelijen Ukraina, perkembangan mengenai jumlah dan pengerahan pasukan masih perlu dilihat bersama informasi dari pihak lain. Jika pengerahan tambahan benar-benar berlangsung, jumlah personel Korea Utara di Rusia dapat meningkat secara signifikan. Perkembangan itu sekaligus menunjukkan bahwa kerja sama militer Rusia dan Korea Utara tetap menjadi salah satu dimensi internasional dalam perang Rusia-Ukraina.