Ankara, 31 Juli 2026 – Program pengembangan jet tempur generasi kelima KAAN milik Turkiye memasuki tahapan baru setelah prototipe terbaru mulai menjalani pengujian di landasan pacu. Perkembangan ini menjadi perhatian Indonesia karena pemerintah telah menandatangani kontrak pengadaan 48 unit KAAN sebagai bagian dari modernisasi kekuatan udara nasional. Pengujian di darat menjadi salah satu tahapan penting sebelum prototipe memasuki rangkaian uji terbang yang lebih luas. Proses tersebut digunakan untuk memastikan berbagai sistem pesawat bekerja sesuai rancangan sebelum menghadapi kondisi penerbangan. Bagi Indonesia, kemajuan pengembangan KAAN menjadi penting karena berkaitan dengan kesiapan produksi pesawat yang nantinya akan dikirim secara bertahap.
Prototipe yang menjalani pengujian merupakan bagian dari pengembangan KAAN oleh Turkish Aerospace Industries atau TAI. Dalam tahap taxi test, pesawat bergerak menggunakan tenaganya sendiri di landasan untuk menguji sejumlah aspek sebelum melakukan penerbangan. Pengujian dapat memberikan gambaran mengenai respons sistem kemudi, pengereman, mesin, roda pendaratan, serta berbagai perangkat pendukung lainnya ketika pesawat bergerak di permukaan. Kecepatan pengujian dapat ditingkatkan secara bertahap sesuai kebutuhan program. Hasil setiap tahap kemudian menjadi bahan evaluasi sebelum pesawat memperoleh izin melanjutkan ke fase berikutnya.
KAAN bukan proyek yang baru memulai pengujian penerbangan. Demonstrator awal pesawat tersebut telah melakukan penerbangan perdana pada Februari 2024 dan kembali menjalani penerbangan berikutnya beberapa bulan kemudian. Namun, prototipe yang lebih baru membawa pengembangan desain dan sistem yang semakin mendekati konfigurasi produksi. Karena itu, kemunculannya di landasan menjadi perkembangan penting dalam program KAAN. TAI menyiapkan beberapa prototipe untuk mempercepat proses pengujian struktur, sistem, avionik, serta performa pesawat sebelum produksi serial dilakukan.
Indonesia resmi menandatangani kontrak implementasi pengadaan 48 pesawat KAAN pada 26 Juli 2025 dalam rangkaian pameran pertahanan IDEF 2025 di Istanbul. Kontrak tersebut merupakan tindak lanjut kesepakatan antarpemerintah Indonesia dan Turkiye yang telah ditandatangani pada 11 Juni 2025. Kesepakatan tidak hanya berorientasi pada pembelian pesawat, tetapi juga membuka peluang peningkatan kapasitas industri pertahanan Indonesia. Kerja sama teknologi dan keterlibatan kemampuan industri lokal menjadi bagian penting dari hubungan pertahanan kedua negara. Indonesia sekaligus menjadi pelanggan ekspor pertama dalam program jet tempur KAAN.
KAAN dikembangkan sebagai pesawat tempur bermesin ganda dengan karakteristik generasi kelima dan kemampuan menjalankan berbagai jenis misi. Pesawat dirancang memiliki karakteristik rendah deteksi radar, sistem avionik modern, radar AESA, serta kemampuan membawa persenjataan di ruang internal. Konsep tersebut ditujukan untuk mendukung misi superioritas udara sekaligus operasi multirole. Kecepatan maksimum yang dirancang berada di kisaran Mach 1,8 dengan kemampuan beroperasi pada ketinggian sekitar 55.000 kaki. Pengembangan sistem sensor dan peperangan elektronik menjadi bagian lain yang menentukan kemampuan KAAN ketika nantinya memasuki layanan operasional.
Bagi Indonesia, pembelian 48 KAAN menjadi salah satu komponen besar dalam transformasi armada tempur TNI Angkatan Udara. Indonesia sebelumnya juga telah memesan 42 Rafale dari Prancis dan terus memperkuat kemampuan udara melalui sejumlah program pengadaan serta modernisasi. Kehadiran KAAN nantinya akan memberikan platform generasi baru yang berbeda dari sebagian besar pesawat tempur yang saat ini digunakan. Namun, pengoperasian pesawat baru membutuhkan persiapan panjang, termasuk pelatihan penerbang, teknisi, infrastruktur pangkalan, sistem pemeliharaan, dan rantai pasok suku cadang. Tahapan tersebut perlu berjalan beriringan dengan perkembangan produksi pesawat di Turkiye.
Kerja sama KAAN juga memiliki dimensi strategis bagi industri pertahanan nasional. Indonesia memiliki kepentingan agar pembelian alutsista dalam jumlah besar memberikan manfaat terhadap peningkatan kemampuan teknologi dalam negeri. Keterlibatan industri lokal dapat mencakup produksi komponen, pengembangan kemampuan pemeliharaan, hingga transfer pengetahuan sesuai skema kerja sama yang disepakati. Kemampuan tersebut penting untuk mengurangi ketergantungan jangka panjang terhadap dukungan dari luar negeri. Apabila implementasinya berjalan sesuai rencana, program KAAN dapat memberikan dampak lebih luas dibandingkan sekadar penambahan jumlah pesawat tempur.
Mulainya pengujian prototipe KAAN di landasan pacu menjadi sinyal bahwa program terus bergerak menuju fase pengujian penerbangan yang semakin intensif. Meski demikian, perjalanan menuju produksi serial dan kesiapan operasional masih membutuhkan berbagai pengujian, validasi sistem, serta penyempurnaan desain. Indonesia sebagai pemesan 48 unit memiliki kepentingan besar terhadap keberhasilan setiap tahapan tersebut karena jadwal produksi dan pengiriman akan bergantung pada kematangan program. Kemajuan KAAN sekaligus memperlihatkan semakin eratnya kerja sama pertahanan Indonesia dan Turkiye dalam pengembangan teknologi militer. Apabila seluruh proses berjalan sesuai target, KAAN berpotensi menjadi salah satu tulang punggung kekuatan tempur udara Indonesia pada dekade mendatang.