Surabaya, 19 September 2026 – Kebakaran hutan dan lahan masih melanda sejumlah kawasan pegunungan di Jawa Timur dengan luas area terdampak mencapai lebih dari 1.500 hektare. Kawasan yang menjadi perhatian berada di sekitar Gunung Buthak-Kawinajang serta Gunung Wilis, sementara kebakaran di Gunung Bromo telah dinyatakan padam. Petugas gabungan masih melakukan pemadaman dan pemantauan untuk mencegah api kembali meluas. Kondisi medan yang sulit dijangkau menjadi salah satu kendala utama dalam operasi tersebut. Angin kencang dan kabut juga dapat memengaruhi efektivitas pemadaman dari udara. Pemerintah daerah terus mengerahkan personel dan peralatan untuk mengendalikan titik api yang masih tersisa.
Kebakaran terbesar terjadi di kawasan Pegunungan Kawi yang mencakup Gunung Buthak dan Kawinajang hingga merembet menuju wilayah Kabupaten Blitar. Luas kawasan terdampak diperkirakan telah mencapai sekitar 1.459 hektare dan masih dapat berubah berdasarkan pendataan di lapangan. Api sebelumnya muncul di kawasan Gunung Buthak, Kabupaten Malang, kemudian berkembang akibat kondisi vegetasi kering dan terpaan angin. Kebakaran sempat berhasil dikendalikan sebelum titik api kembali muncul dan merambat menuju kawasan lainnya. Kondisi tersebut membuat operasi pemadaman harus dilakukan secara berkelanjutan. Petugas juga melakukan penyisiran untuk memastikan tidak terdapat bara yang berpotensi memunculkan kebakaran baru.
Titik kebakaran lainnya terpantau di kawasan Gunung Wilis yang masuk wilayah Kabupaten Nganjuk. Luas lahan yang terdampak di kawasan tersebut diperkirakan mencapai sekitar 50 hektare. Tim gabungan melakukan pemadaman melalui jalur darat dengan mempertimbangkan akses dan kondisi medan pegunungan. Personel harus berjalan menuju sejumlah lokasi karena kendaraan tidak dapat menjangkau seluruh titik kebakaran. Vegetasi kering membuat api dapat bergerak dengan cepat apabila mendapatkan dorongan angin. Pemantauan karena itu terus dilakukan untuk mengetahui arah penyebaran sekaligus menentukan lokasi yang harus diprioritaskan.
Operasi pemadaman dari udara menggunakan metode water bombing turut dilakukan di kawasan yang sulit dijangkau petugas darat. Helikopter dikerahkan untuk menjatuhkan air langsung ke titik api maupun area yang masih mengeluarkan asap. Operasi tersebut sangat bergantung pada kondisi cuaca karena kabut, asap pekat dan angin kencang dapat mengganggu jarak pandang penerbangan. Pada kondisi tertentu, pemadaman udara harus dihentikan sementara demi keselamatan awak. Ketika operasi udara tidak memungkinkan, petugas darat tetap melakukan pemadaman manual dan pembuatan sekat untuk menghambat penyebaran api. Koordinasi antara BPBD, BNPB, TNI, Polri, Perhutani dan unsur terkait terus dilakukan selama penanganan berlangsung.
Sementara itu, kebakaran yang sebelumnya terjadi di kawasan Gunung Bromo telah berhasil dipadamkan sepenuhnya. Petugas tetap melakukan pemantauan dan pembasahan untuk memastikan tidak ada titik panas yang kembali berkembang menjadi kebakaran. Sejumlah kawasan pegunungan Jawa Timur memang mengalami karhutla selama musim kemarau tahun ini, termasuk Bromo, Semeru, Argopuro, Lawu serta kawasan Pegunungan Kawi. Kondisi vegetasi yang mengering membuat kawasan tersebut lebih mudah terbakar ketika muncul sumber api. Angin pegunungan kemudian dapat mempercepat penyebaran api ke wilayah yang lebih luas. Pemerintah mengingatkan masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas yang berpotensi menimbulkan kebakaran ketika berada di kawasan hutan.
Penanganan karhutla akan terus dilakukan hingga seluruh titik api dipastikan padam dan tidak lagi berpotensi muncul kembali. Setelah pemadaman selesai, pendataan diperlukan untuk mendapatkan angka pasti mengenai luas kawasan yang terdampak serta kerusakan vegetasi dan ekosistem. Pemulihan kawasan hutan juga menjadi pekerjaan berikutnya karena kebakaran dalam skala luas dapat memengaruhi habitat satwa dan kondisi lingkungan. Petugas tetap disiagakan di sejumlah lokasi untuk mengantisipasi kemunculan titik api baru selama cuaca kering berlangsung. Masyarakat di sekitar kawasan pegunungan diminta segera melaporkan apabila menemukan asap maupun indikasi kebakaran. Upaya pencegahan menjadi semakin penting agar luas kawasan terdampak tidak bertambah dan kebakaran serupa dapat ditekan.