Jakarta, 12 September 2026 – Wili Mbuik menjadi salah satu dari tiga aparatur sipil negara Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya yang meninggal dunia dalam insiden penembakan di Kampung Muliama, Distrik Muliama, Papua Pegunungan. Wili diketahui merupakan pegawai muda asal Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur, yang bekerja di lingkungan Dinas Pertanian Jayawijaya. Saat peristiwa terjadi pada Rabu, 9 September 2026, Wili bersama dua rekannya tengah menjalankan tugas lapangan berkaitan dengan kegiatan pertanian di wilayah tersebut. Perjalanan kerja yang seharusnya menjadi bagian dari pelayanan kepada masyarakat berubah menjadi tragedi setelah rombongan diserang kelompok bersenjata. Dua rekan Wili yang turut meninggal adalah Aprida Rapi dan Alfonsius Albinus Meha. Kepergian Wili meninggalkan duka mendalam bagi keluarga sekaligus lingkungan pemerintahan tempatnya bekerja.
Wili masih berusia sekitar 26 tahun dan berasal dari Rote Ndao, NTT. Statusnya tercatat sebagai calon pegawai negeri sipil di Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya, memperlihatkan bahwa perjalanan kariernya sebagai aparatur pemerintah masih berada pada tahap awal. Ia memilih menjalankan tugas jauh dari kampung halamannya dan bekerja di Papua Pegunungan. Sebagai bagian dari Dinas Pertanian, aktivitas Wili berkaitan dengan pelayanan pemerintah pada sektor yang menjadi salah satu sumber penghidupan masyarakat. Keputusan bekerja di wilayah tersebut membawa dirinya berhadapan langsung dengan berbagai tantangan geografis dan kondisi lapangan. Namun, perjalanan pengabdiannya harus berakhir akibat serangan bersenjata ketika sedang menjalankan pekerjaan.
Pada hari kejadian, Wili bersama rekan-rekannya berada di Kampung Muliama untuk menjalankan tugas yang berkaitan dengan kegiatan cetak sawah. Aktivitas lapangan tersebut merupakan bagian dari pekerjaan sektor pertanian yang membutuhkan petugas mendatangi langsung wilayah pelaksanaan program. Ketiganya bukan sedang menjalankan operasi keamanan ataupun kegiatan bersenjata ketika serangan terjadi. Situasi tersebut membuat kasus ini mendapatkan perhatian karena korban merupakan pegawai pemerintah yang menjalankan tugas pelayanan. Aparat kemudian melakukan penanganan dan penyelidikan untuk mengetahui identitas orang-orang yang terlibat. Dugaan awal mengarah kepada kelompok bersenjata yang beroperasi dari wilayah Nduga, tetapi penyelidikan tetap dilakukan untuk memastikan peran setiap pelaku.
Peristiwa yang menimpa Wili semakin menjadi perhatian setelah beredar rekaman yang diduga memperlihatkan ponsel miliknya digunakan oleh pelaku setelah penembakan. Dalam rekaman tersebut, orang yang diduga anggota kelompok bersenjata melakukan panggilan video dengan keluarga korban menggunakan telepon seluler Wili. Keluarga yang menerima panggilan kemudian mempertanyakan alasan tindakan kekerasan terhadap Wili. Rekaman tersebut menambah kesedihan keluarga karena mereka harus menghadapi situasi yang sangat berat setelah mengetahui anggota keluarganya menjadi korban. Aparat dapat menjadikan berbagai informasi yang muncul setelah kejadian sebagai bagian dari pendalaman perkara. Identitas serta keterlibatan orang-orang yang berada dalam rekaman tetap perlu dipastikan melalui proses penyelidikan.
Aparat keamanan melakukan olah tempat kejadian perkara setelah menerima informasi mengenai penembakan terhadap tiga pegawai Dinas Pertanian tersebut. Barang bukti dari lokasi dikumpulkan untuk membantu mengetahui jenis senjata maupun pola serangan yang dilakukan. Keterangan saksi juga diperlukan untuk merekonstruksi pergerakan para pelaku sebelum dan setelah kejadian. Berdasarkan perkembangan penyelidikan, aparat memburu sejumlah orang yang diduga terlibat dalam serangan. Sebagian nama yang teridentifikasi disebut memiliki keterkaitan dengan kelompok bersenjata dari Nduga. Penelusuran terus dilakukan karena penetapan tanggung jawab pidana membutuhkan bukti mengenai tindakan masing-masing orang yang terlibat.
Kematian Wili menjadi pukulan berat bagi keluarganya di Rote Ndao. Setelah proses penanganan di Papua Pegunungan selesai, jenazah dipulangkan menuju Nusa Tenggara Timur untuk diserahkan kepada keluarga. Pemerintah Kabupaten Rote Ndao turut terlibat dalam proses penjemputan ketika jenazah tiba di Pelabuhan Pantai Baru pada Jumat, 11 September 2026. Jajaran pemerintah daerah bersama unsur Forkopimda memberikan penghormatan dan kemudian mengantar jenazah menuju rumah duka di Kelurahan Busalangga, Kecamatan Rote Barat Laut. Kehadiran pemerintah daerah menjadi bentuk perhatian terhadap warga Rote Ndao yang meninggal ketika menjalankan tugas di luar daerah. Keluarga kemudian menerima jenazah untuk menjalani prosesi sesuai adat dan tradisi keluarga.
Pemulangan jenazah melibatkan koordinasi sejumlah pemerintah daerah karena perjalanan Wili membentang dari Papua Pegunungan hingga Nusa Tenggara Timur. Dukungan diberikan oleh pemerintah di Papua Pegunungan, Kabupaten Jayawijaya, Pemerintah Provinsi NTT, serta Pemerintah Kabupaten Rote Ndao. Koordinasi tersebut membantu memastikan jenazah dapat kembali ke kampung halaman dan diterima keluarga. Pihak keluarga menyampaikan penghargaan terhadap berbagai pihak yang membantu proses tersebut. Di tengah suasana duka, perhatian kemudian tertuju pada penghormatan terakhir kepada Wili dan pendampingan terhadap keluarga yang ditinggalkan. Pemerintah daerah juga menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya pegawai muda tersebut.
Wili menjadi salah satu gambaran risiko yang dihadapi aparatur sipil ketika bekerja di sejumlah wilayah dengan kondisi keamanan yang tidak selalu stabil. Pegawai pada sektor pertanian, kesehatan, pendidikan, dan pelayanan publik lainnya harus mendatangi masyarakat secara langsung agar program pemerintah dapat berjalan. Di Papua Pegunungan, kondisi geografis membuat perjalanan antarkawasan membutuhkan waktu dan perencanaan tersendiri. Ketika gangguan keamanan terjadi, petugas sipil dapat menghadapi risiko meskipun pekerjaan mereka tidak berkaitan dengan operasi keamanan. Peristiwa yang menimpa Wili dan dua rekannya karena itu mendorong perhatian terhadap kebutuhan pemetaan risiko sebelum pegawai menjalankan tugas lapangan. Perlindungan perlu diperkuat tanpa membuat pelayanan kepada masyarakat berhenti.
Kasus tersebut juga menegaskan pentingnya memisahkan pegawai sipil dari pihak yang terlibat langsung dalam konflik bersenjata. ASN Dinas Pertanian mempunyai tugas utama menjalankan pelayanan dan program pemerintah pada sektor pertanian. Serangan terhadap petugas yang sedang menjalankan kegiatan tersebut berpotensi mengganggu program yang sebenarnya ditujukan kepada masyarakat setempat. Ketakutan dapat membuat pegawai lain lebih berhati-hati atau bahkan kesulitan menjangkau daerah tertentu. Apabila kondisi berlangsung berkepanjangan, masyarakat dapat kehilangan akses terhadap pelayanan yang mereka perlukan. Karena itu, keamanan tenaga sipil menjadi bagian penting dalam memastikan kegiatan pemerintahan dan pembangunan tetap dapat berjalan.
Wili Mbuik pada akhirnya dikenang sebagai pegawai muda asal Rote Ndao yang kehilangan nyawa ketika menjalankan tugas bersama Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya. Kariernya sebagai aparatur pemerintah masih berada pada tahap awal ketika tragedi di Kampung Muliama merenggut kehidupannya bersama dua rekan kerja. Jenazah Wili telah dipulangkan ke kampung halaman dan diterima keluarga dengan pendampingan pemerintah daerah. Sementara itu, aparat terus melakukan penyelidikan dan pengejaran terhadap pihak yang diduga terlibat dalam penembakan. Pengungkapan kasus secara tuntas menjadi penting untuk memberikan kepastian kepada keluarga sekaligus memastikan pelaku bertanggung jawab melalui proses hukum. Kepergian Wili juga meninggalkan pengingat mengenai pentingnya perlindungan bagi para pegawai sipil yang menjalankan pelayanan masyarakat di wilayah dengan risiko keamanan tinggi.