Jakarta, 23 September 2026 – Tanggal 23 September menyimpan sejumlah peristiwa penting dalam sejarah dunia dan Indonesia. Berbagai kejadian tercatat pada tanggal ini, mulai dari penemuan planet Neptunus, pembentukan Kerajaan Arab Saudi, pertempuran dalam Perang Dunia II, hingga serangan bom di Baghdad. Bagi Indonesia, 23 September juga menjadi tanggal wafatnya advokat senior sekaligus aktivis hukum Adnan Buyung Nasution pada 2015. Rangkaian peristiwa tersebut berlangsung pada masa dan konteks yang berbeda. Namun, semuanya menjadi bagian dari catatan sejarah yang kembali dikenang setiap 23 September.
Salah satu peristiwa paling awal terjadi pada 23 September 1846 ketika planet Neptunus berhasil diamati. Penemuan tersebut menjadi tonggak penting dalam perkembangan astronomi karena keberadaan Neptunus sebelumnya telah diperkirakan melalui perhitungan matematika. Perubahan yang tidak sesuai perkiraan pada orbit Uranus membuat para astronom menduga terdapat benda langit lain dengan gaya gravitasi yang memengaruhinya. Astronom Johann Gottfried Galle kemudian mengamati Neptunus berdasarkan posisi yang telah diperhitungkan Urbain Le Verrier. Neptunus kini dikenal sebagai planet kedelapan sekaligus planet terjauh dari Matahari dalam tata surya.
Tanggal 23 September juga memiliki arti penting bagi Arab Saudi. Pada 1932, Abdulaziz bin Abdul Rahman Al Saud menyatukan wilayah Hijaz dan Najd beserta daerah kekuasaannya menjadi Kerajaan Arab Saudi. Proklamasi penyatuan tersebut menandai terbentuknya negara Arab Saudi dalam bentuk modern. Peristiwa bersejarah itu kemudian menjadi dasar peringatan Hari Nasional Arab Saudi setiap 23 September. Hingga kini, tanggal tersebut menjadi salah satu hari nasional terpenting di negara tersebut.
Satu dekade kemudian, tepatnya 23 September 1942, pertempuran berlangsung antara pasukan Amerika Serikat dan Jepang di sekitar Sungai Matanikau, Guadalcanal, Kepulauan Solomon. Pertempuran itu merupakan bagian dari Kampanye Guadalcanal dalam Perang Dunia II di kawasan Pasifik. Pasukan Amerika Serikat berupaya menyerang posisi Jepang di kawasan Matanikau dalam rangkaian operasi yang berlangsung beberapa hari. Pertempuran di kawasan tersebut tidak berhenti dalam satu operasi karena bentrokan kembali terjadi pada awal Oktober 1942. Kampanye Guadalcanal kemudian menjadi salah satu fase penting dalam perebutan kendali strategis di Pasifik.
Peristiwa kelam juga tercatat pada 23 September 2006 di Baghdad, Irak. Sebuah serangan bom dilaporkan menghantam kendaraan pengangkut minyak dan mengakibatkan sekitar 35 orang meninggal dunia. Peristiwa tersebut berlangsung ketika Irak menghadapi gelombang kekerasan sektarian yang intens antara kelompok Sunni dan Syiah. Baghdad menjadi salah satu pusat kekerasan yang paling terdampak pada periode tersebut. Serangan-serangan bom dan bentrokan bersenjata membuat situasi keamanan Irak ketika itu berada dalam kondisi sangat tidak stabil.
Bagi Indonesia, tanggal 23 September juga dikenang sebagai hari wafatnya Adnan Buyung Nasution. Advokat senior tersebut meninggal dunia pada 23 September 2015 dalam usia 81 tahun setelah menjalani perawatan di Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta. Adnan lahir di Batavia pada 20 Juli 1934 dengan nama Adnan Bahrum Nasution. Sepanjang hidupnya, ia dikenal aktif dalam bidang hukum, bantuan hukum, dan advokasi hak asasi manusia. Kiprahnya membuat Adnan menjadi salah satu tokoh penting dalam perkembangan gerakan bantuan hukum di Indonesia.
Salah satu warisan penting Adnan Buyung adalah pendirian Lembaga Bantuan Hukum (LBH) pada 1970. Lembaga tersebut dibentuk untuk memperluas akses masyarakat terhadap pendampingan dan bantuan hukum, terutama bagi kelompok yang memiliki keterbatasan ekonomi. Dalam perkembangannya, gerakan bantuan hukum yang dirintisnya menjadi bagian penting dalam advokasi hak-hak masyarakat. Adnan juga pernah berkarier sebagai jaksa sebelum kemudian berkiprah sebagai advokat. Aktivitasnya tidak hanya terbatas pada ruang pengadilan, tetapi juga menyentuh berbagai persoalan demokrasi, penegakan hukum, dan hak asasi manusia.
Adnan Buyung juga pernah terlibat dalam penyelenggaraan pemilu pada masa awal Reformasi. Ia tercatat menjadi Wakil Ketua Komisi Pemilihan Umum pada 1999, ketika Indonesia menyelenggarakan pemilu pertama setelah berakhirnya pemerintahan Orde Baru. Bertahun-tahun kemudian, ia dipercaya menjadi anggota Dewan Pertimbangan Presiden bidang hukum pada periode 2007–2009. Pengalaman tersebut melengkapi perjalanan panjangnya di bidang hukum dan kehidupan publik. Wafatnya Adnan pada 2015 kemudian meninggalkan jejak panjang dalam sejarah bantuan hukum Indonesia.
Beragam peristiwa yang terjadi pada 23 September menunjukkan bagaimana satu tanggal dapat menghubungkan berbagai babak sejarah yang sama sekali berbeda. Penemuan Neptunus memperlihatkan kemajuan ilmu pengetahuan pada abad ke-19, sementara pembentukan Arab Saudi menjadi tonggak geopolitik penting di Timur Tengah. Pertempuran Guadalcanal mengingatkan pada besarnya konflik global selama Perang Dunia II. Sementara serangan Baghdad pada 2006 mencerminkan beratnya situasi keamanan Irak pada periode konflik sektarian. Di Indonesia, wafatnya Adnan Buyung Nasution menjadi momentum untuk kembali melihat perkembangan bantuan hukum dan advokasi HAM.
Catatan sejarah 23 September pada akhirnya tidak hanya berisi tanggal dan nama peristiwa, tetapi juga menggambarkan perubahan yang berlangsung dalam ilmu pengetahuan, politik, peperangan, dan kehidupan sosial. Sebagian peristiwa memberikan dampak yang masih terasa hingga bertahun-tahun kemudian. Ada pula tokoh yang warisan pemikirannya tetap dikenang setelah meninggal dunia, seperti Adnan Buyung Nasution. Mengenali kembali berbagai peristiwa tersebut dapat membantu memahami perjalanan sejarah dari konteks zamannya masing-masing. Setiap 23 September pun menjadi kesempatan untuk melihat kembali sejumlah momentum yang pernah membentuk perjalanan Indonesia dan dunia.