Ankara, 21 September 2026 – Turki berharap proses diplomatik untuk mengakhiri konflik Rusia-Ukraina terus berkembang dan inisiatif yang dijalankan Amerika Serikat dapat menghasilkan kemajuan konkret. Ankara menempatkan pemulihan perundingan sebagai salah satu prioritas dalam pendekatan diplomatiknya terhadap perang yang telah berlangsung sejak Februari 2022. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan terus melakukan komunikasi dengan sejumlah pemimpin Barat untuk memberikan momentum baru bagi proses tersebut. Turki juga mempertahankan hubungan dengan Rusia dan Ukraina sehingga memiliki jalur komunikasi dengan kedua pihak. Posisi tersebut selama ini memungkinkan Ankara mengambil peran sebagai salah satu fasilitator dialog. Namun, pemerintah Turki menilai langkah diplomatik berikutnya perlu menghasilkan perkembangan yang dapat diterapkan secara nyata.
Upaya terbaru Amerika Serikat melibatkan utusan khusus Steve Witkoff dan Jared Kushner yang melakukan pembicaraan dengan pihak Rusia dan Ukraina pada awal September. Keduanya lebih dahulu bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin di Moskow dalam pembicaraan yang berlangsung sekitar tiga jam. Delegasi AS kemudian melanjutkan perjalanan menuju Kyiv untuk bertemu Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy dan pejabat terkait. Sejumlah perwakilan negara Eropa juga ikut terlibat dalam bagian pembicaraan di Ukraina. Washington menyebut terdapat kemajuan substantif dalam upaya membuka kembali jalur diplomasi, termasuk pembahasan kemungkinan pertemuan lanjutan. Meski demikian, perundingan tersebut belum menghasilkan terobosan yang mampu mengakhiri perang.
Turki memandang kelanjutan komunikasi langsung antara Moskow dan Kyiv sebagai unsur penting dalam mencari penyelesaian. Ankara sebelumnya telah menjadi lokasi sejumlah perundingan dan proses diplomatik yang melibatkan kedua negara. Pengalaman tersebut membuat Turki kembali menyatakan kesiapan menyediakan ruang bagi pembicaraan apabila Rusia dan Ukraina bersedia melanjutkan negosiasi. Erdogan juga berupaya mempertahankan komunikasi dengan mitra Barat agar dukungan internasional terhadap jalur diplomasi tetap berjalan. Ankara menilai penyelesaian berkelanjutan membutuhkan keterlibatan berbagai pihak sekaligus kesediaan Rusia dan Ukraina untuk mempersempit perbedaan. Hasil konkret menjadi perhatian karena sejumlah upaya diplomatik sebelumnya belum mampu menghentikan pertempuran.
Di sisi lain, posisi Rusia dan Ukraina masih memiliki perbedaan besar pada sejumlah persoalan utama. Persoalan wilayah, jaminan keamanan serta mekanisme penghentian pertempuran tetap menjadi bagian yang sulit diselesaikan. Ukraina menegaskan setiap penyelesaian harus menghormati kedaulatan dan kepentingan keamanannya, sedangkan Rusia terus menyampaikan tuntutan yang berkaitan dengan kondisi keamanan dan wilayah. Perbedaan tersebut membuat proses menuju kesepakatan membutuhkan negosiasi lebih lanjut. Pertempuran dan serangan jarak jauh juga masih berlangsung ketika pembicaraan diplomatik dijalankan. Kondisi itu menunjukkan bahwa kemajuan dalam komunikasi belum dapat disamakan dengan tercapainya kesepakatan perdamaian.
Selain mendukung inisiatif AS, Turki berupaya mendorong pengaturan keamanan di kawasan Laut Hitam. Ankara telah menyampaikan sejumlah gagasan kepada Rusia dan Ukraina untuk mengurangi serangan terhadap pelayaran serta infrastruktur yang berkaitan dengan aktivitas maritim. Keamanan Laut Hitam memiliki arti penting bagi Turki karena kawasan tersebut menjadi jalur perdagangan dan transportasi internasional. Gangguan terhadap kapal komersial juga berpotensi memberikan dampak ekonomi yang melampaui Rusia dan Ukraina. Karena itu, Ankara melihat kesepakatan terbatas mengenai keamanan maritim dapat menjadi salah satu langkah praktis untuk membangun kepercayaan. Kemajuan pada persoalan tertentu diharapkan dapat membantu membuka ruang bagi pembahasan yang lebih luas.
Turki menegaskan akan terus mendukung upaya diplomatik yang dapat membawa Rusia dan Ukraina kembali ke meja perundingan. Harapan terhadap inisiatif Amerika Serikat muncul ketika berbagai pihak kembali meningkatkan komunikasi untuk mencari jalan keluar dari perang yang telah memasuki tahun kelima. Ankara tidak hanya mengharapkan pertemuan lanjutan, tetapi juga perkembangan nyata yang dapat mengurangi pertempuran dan membangun dasar menuju penyelesaian. Kemungkinan pembicaraan trilateral maupun format diplomatik lainnya masih menjadi bagian dari opsi yang dibahas. Namun, keberhasilannya tetap bergantung pada keputusan Rusia dan Ukraina serta dukungan negara-negara yang terlibat dalam proses tersebut. Turki pun berupaya mempertahankan perannya sebagai penghubung diplomatik sambil mendorong terciptanya perdamaian yang berkelanjutan.