Palangka Raya, 9 September 2026 – Kebakaran hutan dan lahan yang masih berlangsung di Kalimantan Tengah mulai memberikan tekanan serius terhadap sejumlah kawasan yang menjadi habitat orangutan Kalimantan. Sebaran titik panas ditemukan berdekatan bahkan bertumpang tindih dengan wilayah jelajah satwa dilindungi tersebut, terutama pada kawasan Katingan, Seruyan-Sampit, Rungan, Sabangau, hingga Kotawaringin Barat. Kondisi semakin mengkhawatirkan karena sejumlah wilayah dengan konsentrasi habitat orangutan juga mencatat jumlah hotspot relatif tinggi selama periode kemarau. Data terbaru menunjukkan Katingan menjadi salah satu daerah dengan konsentrasi titik panas tertinggi di Kalimantan Tengah, disusul Pulang Pisau, Seruyan, Kotawaringin Timur, dan sejumlah kabupaten lainnya. Kebakaran tidak hanya berpotensi menghanguskan vegetasi, tetapi juga menghilangkan pohon pakan, pohon sarang, serta jalur pergerakan orangutan. Pemerintah bersama petugas konservasi kini meningkatkan pemantauan untuk mencegah kebakaran berkembang menjadi ancaman yang semakin besar terhadap populasi satwa tersebut.
Tekanan terhadap habitat orangutan terlihat dari pemetaan titik panas sepanjang musim kemarau tahun ini. Analisis terhadap hotspot di Kalimantan selama periode Juni hingga akhir Agustus menunjukkan sebagian besar titik panas berada di kawasan yang termasuk wilayah habitat orangutan. Pada Agustus saja, lebih dari 17 ribu hotspot tercatat berada atau berdekatan dengan bentang habitat orangutan Kalimantan. Salah satu kelompok yang paling terdampak adalah Pongo pygmaeus wurmbii, subspesies yang persebarannya mencakup bagian selatan Sungai Kapuas hingga wilayah sebelah barat Sungai Barito di Kalimantan Tengah. Kondisi tersebut penting diperhatikan karena Kalimantan Tengah memiliki salah satu proporsi habitat orangutan terbesar di Pulau Kalimantan. Kebakaran dalam skala luas dapat membuat populasi yang sebelumnya masih terhubung menjadi semakin terfragmentasi sehingga kemampuan satwa untuk berpindah, mencari makan, dan berkembang biak ikut terganggu.
Beberapa bentang alam di Kalimantan Tengah kini mendapatkan perhatian khusus karena memiliki kombinasi antara keberadaan orangutan dan ancaman kebakaran. Kawasan Seruyan-Sampit termasuk dalam wilayah yang dinilai memiliki kerentanan tinggi karena tekanan hotspot berhadapan dengan populasi orangutan yang membutuhkan perlindungan ketat. Bentang Rungan River dan Katingan juga menjadi kantong populasi penting yang membutuhkan pencegahan kebakaran secara intensif. Sementara kawasan Sabangau tetap menjadi salah satu bentang habitat utama yang harus dijaga karena memiliki ekosistem gambut dengan populasi orangutan yang penting. Kebakaran di lahan gambut memiliki karakter berbeda karena api dapat merambat di bawah permukaan dan bertahan cukup lama meskipun bagian atas terlihat telah padam. Kondisi itu membuat upaya pendinginan harus dilakukan berulang untuk mencegah api kembali muncul dan menyebar menuju kawasan hutan di sekitarnya.
Ancaman nyata terhadap satwa telah terlihat di Kabupaten Kotawaringin Timur. Petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Tengah sebelumnya harus melakukan penyelamatan terhadap seekor induk orangutan bersama anaknya yang ditemukan bertahan di atas pohon di tengah kawasan gambut bekas terbakar di Jalan Sawit Raya, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang. Orangutan tersebut pertama kali diketahui ketika personel yang melakukan patroli karhutla melihat satwa bertahan di area yang masih memiliki bara dan sejumlah titik api. Kondisi lahan membuat proses mendekati lokasi tidak mudah sehingga diperlukan koordinasi dengan petugas konservasi dan organisasi penyelamatan orangutan. Kejadian tersebut memberikan gambaran mengenai dampak langsung karhutla terhadap satwa yang tidak memiliki banyak pilihan ketika ruang hidupnya terbakar. Orangutan dapat bertahan di pohon yang tersisa atau bergerak keluar dari kawasan hutan untuk mencari tempat yang lebih aman.
Kotawaringin Barat juga menjadi salah satu wilayah yang mendapatkan perhatian karena kebakaran mulai bergerak mendekati kawasan Danau Masoraian yang memiliki fungsi konservasi dan menjadi habitat orangutan. Kebakaran dilaporkan merambah kawasan sekitar Kilometer 19 ruas Jalan Pangkalan Bun-Kotawaringin Lama, sementara lokasi api sulit dijangkau menggunakan kendaraan maupun peralatan pemadaman darat. Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Barat bahkan telah meminta dukungan helikopter water bombing untuk membantu memadamkan kebakaran dari udara. Hingga perkembangan terbaru, ribuan hotspot telah terdeteksi tersebar di enam kecamatan di kabupaten tersebut dengan Kumai, Arut Selatan, dan Kotawaringin Lama menjadi wilayah yang mencatat konsentrasi cukup besar. Luas lahan terbakar juga telah mencapai ribuan hektare sehingga pengendalian api menjadi prioritas sebelum kebakaran memasuki kawasan konservasi yang lebih sensitif.
Katingan menjadi daerah lain yang perlu mendapatkan pengawasan intensif. Data Dinas Kehutanan Kalimantan Tengah pada 7 September menunjukkan sebanyak 351 hotspot masih terdeteksi di Katingan, tertinggi dibandingkan wilayah lain pada pencatatan tersebut. Pulang Pisau berada di bawahnya dengan 311 titik, Seruyan 301 titik, Kotawaringin Timur 289 titik, sedangkan Palangka Raya mencatat 155 titik. Kotawaringin Barat dan Sukamara masing-masing juga masih mencatat lebih dari seratus titik panas. Jumlah hotspot secara keseluruhan memang telah menurun dibandingkan puncaknya pada awal September ketika lebih dari 7.000 titik terdeteksi dalam satu hari. Namun, penurunan tersebut belum dapat diartikan bahwa ancaman telah berakhir karena titik panas masih dapat kembali bertambah ketika kondisi cuaca kering, angin, dan bahan bakar permukaan mendukung penyebaran api.
Karhutla memberikan dampak terhadap orangutan melalui mekanisme yang lebih luas daripada sekadar risiko terkena kobaran api. Hilangnya vegetasi dapat mengurangi sumber buah, daun, kulit kayu, dan berbagai jenis makanan yang diperlukan orangutan untuk bertahan hidup. Kebakaran juga dapat menghancurkan pohon besar yang digunakan sebagai tempat membuat sarang sekaligus memutus jalur kanopi yang membantu satwa bergerak tanpa harus turun ke permukaan tanah. Ketika habitat kehilangan kemampuan menyediakan makanan, orangutan dapat bergerak menuju perkebunan, kebun masyarakat, atau permukiman. Pergerakan tersebut meningkatkan kemungkinan terjadinya konflik antara manusia dan satwa, terutama ketika orangutan mencari makanan pada tanaman yang dibudidayakan masyarakat. Karena itu, petugas mengingatkan warga agar tidak menangkap, mengejar, atau menyakiti satwa liar yang muncul dari kawasan terbakar dan segera melaporkan keberadaannya kepada petugas konservasi.
Pemerintah telah memperkuat Satgas Penyelamatan Satwa Liar Kalimantan Tengah sebagai langkah antisipasi apabila semakin banyak orangutan maupun satwa lainnya terdampak kebakaran. Penguatan dilakukan melalui koordinasi Kementerian Kehutanan, BKSDA Kalimantan Tengah, serta berbagai organisasi konservasi yang selama ini bekerja dalam penyelamatan dan rehabilitasi orangutan. Tim juga mempersiapkan kebutuhan medis karena ancaman terhadap satwa tidak hanya berasal dari luka bakar, tetapi juga paparan asap dalam waktu panjang. Dokter hewan, tabung oksigen, nebulizer, serta peralatan penanganan gangguan pernapasan dipersiapkan apabila ditemukan orangutan yang membutuhkan perawatan. Penambahan tenaga dokter hewan dari luar Kalimantan Tengah juga menjadi opsi apabila jumlah satwa yang harus ditangani melampaui kemampuan tim yang tersedia. Langkah tersebut berjalan bersamaan dengan operasi pemadaman yang dilakukan di berbagai wilayah.
Perlindungan terhadap habitat menjadi sangat penting karena orangutan Kalimantan berstatus sangat terancam punah dan memiliki tingkat reproduksi yang lambat. Kehilangan individu dewasa, terutama betina yang sedang membawa anak, dapat memberikan dampak panjang terhadap keberlanjutan sebuah populasi. Fragmentasi habitat juga dapat memisahkan kelompok orangutan ke dalam kantong-kantong hutan kecil sehingga pergerakan dan pertukaran genetik semakin terbatas. Ancaman tersebut menjadi lebih besar ketika kebakaran terjadi berulang pada lokasi yang sama setiap musim kemarau. Karena itu, penanganan tidak cukup hanya dengan menyelamatkan individu yang ditemukan terjebak api. Pencegahan kebakaran pada kawasan bernilai konservasi tinggi, perlindungan koridor habitat, restorasi areal terbakar, dan pengawasan terhadap aktivitas yang berpotensi memicu api harus dilakukan secara berkelanjutan.
Kondisi karhutla di Kalimantan Tengah akan terus dipantau meskipun jumlah hotspot dalam beberapa hari terakhir menunjukkan penurunan. Katingan, Seruyan, Kotawaringin Timur, Kotawaringin Barat, Pulang Pisau, kawasan Rungan, serta bentang Sabangau menjadi bagian dari wilayah yang membutuhkan perhatian karena memiliki hubungan langsung maupun berdekatan dengan ruang hidup orangutan. Pengalaman penyelamatan induk dan anak orangutan di Kotawaringin Timur menjadi bukti bahwa ancaman terhadap satwa bukan lagi sekadar kemungkinan berdasarkan pemetaan. Jika kebakaran kembali meluas, orangutan dapat kehilangan habitat sekaligus terdorong menuju wilayah yang meningkatkan risiko konflik dengan manusia. Pemerintah karena itu terus menggabungkan pemadaman, patroli, penyelamatan satwa, pemantauan hotspot, serta perlindungan kawasan konservasi dalam penanganan karhutla. Menjaga api tidak memasuki kantong-kantong utama habitat menjadi langkah penting agar musim kemarau tahun ini tidak menyebabkan kerusakan jangka panjang terhadap populasi orangutan Kalimantan.