Jakarta, 9 September 2026 – Paris Hilton membuka perjalanan pribadinya setelah didiagnosis attention-deficit/hyperactivity disorder atau ADHD ketika sudah memasuki usia dewasa. Pengusaha, DJ, dan figur televisi berusia 45 tahun tersebut mengatakan diagnosis yang diterimanya pada usia 20-an menjadi titik penting untuk memahami berbagai kesulitan yang telah dialami sejak masih anak-anak. Selama bersekolah, Hilton mengaku sering kesulitan mempertahankan fokus, mengingat pelajaran, mengatur tugas, dan mengikuti pola belajar seperti teman-temannya. Kondisi itu sempat membuatnya mendapatkan berbagai penilaian negatif dari lingkungan sekitar. Setelah mengetahui dirinya mengalami ADHD, banyak pengalaman masa lalu akhirnya terasa lebih masuk akal baginya.
Hilton mengingat masa sekolah sebagai periode ketika dirinya sering merasa disalahpahami. Meskipun telah berusaha belajar, ia mengatakan konsentrasi dan kemampuan mengingat materi tetap menjadi tantangan besar. Ia kerap kehilangan pekerjaan rumah, melamun ketika mengikuti pelajaran, serta kesulitan menyelesaikan tugas sesuai tuntutan sekolah. Orang lain terkadang menganggap dirinya tidak berusaha cukup keras, malas, atau tidak serius menjalani pendidikan. Penilaian semacam itu kemudian memengaruhi kepercayaan dirinya karena saat itu Hilton belum memahami penyebab kesulitan yang dialaminya.
Situasinya berbeda ketika berhadapan dengan aktivitas yang benar-benar menarik perhatiannya. Hilton merasa mampu memberikan konsentrasi sangat besar terhadap bidang kreatif seperti seni dan musik. Ketika tertarik terhadap suatu proyek, ia dapat tenggelam dalam aktivitas tersebut dan menghasilkan banyak gagasan dalam waktu relatif cepat. Pengalaman tersebut kemudian menjadi salah satu hal yang membuatnya melihat ADHD dari perspektif berbeda setelah dewasa. Ia tidak lagi hanya memusatkan perhatian pada berbagai kesulitan yang muncul, tetapi juga berusaha memahami karakter pikirannya dan memanfaatkannya secara produktif.
Hilton mengatakan diagnosis ADHD pada usia 20-an memberikan rasa lega karena akhirnya terdapat penjelasan terhadap pengalaman yang selama bertahun-tahun membingungkannya. Ia mulai mempelajari kondisi tersebut dan menyadari bahwa cara otaknya bekerja memang berbeda. Berbagai pengalaman ketika masih kecil, termasuk sulit berkonsentrasi dan merasa kewalahan dengan tuntutan sekolah, kemudian dapat dipahami melalui perspektif baru. Pengetahuan tersebut membuat Hilton merasa tidak lagi sendirian menghadapi kondisi yang dialaminya. Ia juga mulai belajar mengembangkan strategi untuk mengelola aktivitas sehari-hari secara lebih terstruktur.
Seiring perjalanan waktu, pandangan Hilton terhadap ADHD mengalami perubahan cukup besar. Jika sebelumnya kondisi tersebut membuatnya mempertanyakan kemampuan diri, kini ia justru menggambarkannya sebagai salah satu sumber kreativitas dan keberaniannya mengambil risiko. Hilton bahkan menyebut ADHD sebagai bagian dari “kekuatan” yang membentuk dirinya sebagai pengusaha dan kreator. Menurutnya, pikirannya terus menghasilkan berbagai gagasan sehingga mendorong dirinya mencoba sesuatu yang baru. Karakter tersebut dinilai ikut berperan dalam perjalanan bisnis, musik, hiburan, dan berbagai proyek kreatif yang dijalaninya.
Kemampuan memberikan perhatian sangat intens terhadap sesuatu yang diminati juga menjadi pengalaman yang sering dirasakan Hilton. Ketika menemukan proyek yang membuatnya antusias, ia dapat mencurahkan perhatian dalam waktu lama dan memikirkan berbagai detail secara mendalam. Energi tersebut kemudian diarahkan ke bidang yang produktif, termasuk mengembangkan bisnis dan menciptakan karya. Namun, Hilton tidak menutup mata terhadap berbagai tantangan ADHD yang tetap harus dikelola. Kesulitan mengorganisasi aktivitas, mempertahankan fokus pada pekerjaan tertentu, dan mengatur banyak tanggung jawab tetap membutuhkan strategi yang sesuai.
Saat ini, tanggung jawab Hilton semakin kompleks karena ia harus membagi perhatian antara keluarga dan berbagai aktivitas profesional. Bersama suaminya, Carter Reum, ia membesarkan dua anak, Phoenix dan London, sembari tetap menjalankan sejumlah kegiatan bisnis dan hiburan. Hilton mengatakan sistem organisasi yang lebih terstruktur membantunya menjalani berbagai peran tersebut. Ia juga bekerja bersama tenaga kesehatan untuk mendapatkan penanganan yang sesuai dengan kebutuhannya. Pendekatan terhadap ADHD memang dapat berbeda pada setiap individu sehingga evaluasi profesional menjadi penting untuk menentukan penanganan yang tepat.
Pengalaman menjadi seorang ibu semakin mendorong Hilton berbicara terbuka mengenai neurodiversitas. Ia ingin anak-anak tumbuh dalam lingkungan yang memungkinkan setiap orang dihargai berdasarkan karakter dan kemampuan masing-masing. Menurutnya, generasi muda yang memiliki ADHD tidak seharusnya terus-menerus menerima stigma hanya karena mempunyai cara belajar atau bekerja berbeda. Dukungan lingkungan keluarga dan sekolah dapat berperan besar dalam membantu mereka mengenali kemampuan sekaligus mengelola tantangan. Hilton berharap pengalaman pribadinya dapat memberikan gambaran bahwa diagnosis tidak harus menjadi batas bagi seseorang untuk berkembang.
Meski Hilton menyebut ADHD sebagai sumber kreativitas dan kekuatan pribadi, kondisi tersebut secara medis tetap dapat menimbulkan gangguan nyata dalam kehidupan seseorang. ADHD dapat memengaruhi perhatian, pengendalian impuls, pengaturan waktu, kemampuan organisasi, hingga penyelesaian tugas. Gejala dan tingkat dampaknya juga tidak sama pada setiap orang sehingga pengalaman Hilton tidak dapat digeneralisasi kepada seluruh individu dengan ADHD. Sebagian orang dapat menghadapi hambatan yang jauh lebih berat dalam pendidikan, pekerjaan maupun kehidupan sosial. Karena itu, dugaan ADHD tetap membutuhkan penilaian tenaga profesional dan tidak sebaiknya ditentukan hanya berdasarkan kesamaan beberapa gejala.
Kisah Hilton juga menyoroti persoalan diagnosis ADHD pada perempuan yang terkadang baru diperoleh ketika mereka sudah dewasa. Gejala pada sebagian perempuan dapat lebih banyak berupa kesulitan mempertahankan perhatian dan masalah organisasi yang tidak selalu terlihat seperti perilaku hiperaktif. Akibatnya, kondisi tersebut berpotensi tidak dikenali ketika masih berada di lingkungan sekolah. Seseorang kemudian baru mencari pemeriksaan setelah tuntutan pekerjaan, kehidupan rumah tangga, atau tanggung jawab lain semakin kompleks. Diagnosis yang tepat dapat membantu menentukan strategi pengelolaan yang sesuai dengan kebutuhan individu.
Hilton kini menggunakan popularitasnya untuk mendorong pembicaraan yang lebih terbuka mengenai ADHD. Ia ingin mengurangi anggapan bahwa orang dengan kondisi tersebut identik dengan kemalasan atau ketidakmampuan untuk mencapai keberhasilan. Menurut pengalamannya, memahami cara kerja dirinya sendiri justru membantunya mengarahkan energi dan kreativitas ke berbagai bidang yang diminati. Pada saat bersamaan, ia tetap menekankan pentingnya menemukan strategi serta penanganan yang efektif untuk mengelola tantangan sehari-hari. Keseimbangan antara menerima karakter diri dan memperoleh dukungan yang tepat menjadi bagian penting dari perjalanan tersebut.
Setelah bertahun-tahun merasa kesulitan memahami dirinya sendiri, Paris Hilton sekarang memandang diagnosis ADHD sebagai salah satu momen yang mengubah perspektif hidupnya. Kondisi yang dahulu membuatnya merasa berbeda kini dianggap ikut membentuk kreativitas, rasa ingin tahu, keberanian mengambil risiko, dan kemampuannya menghasilkan berbagai ide. Pengalaman itu pula yang membuatnya semakin aktif menyuarakan penerimaan terhadap neurodiversitas. Namun, ADHD tetap merupakan kondisi yang membutuhkan perhatian dan dapat memberikan dampak berbeda bagi setiap individu. Melalui keterbukaannya, Hilton berharap semakin banyak orang memahami bahwa mengenali kondisi secara tepat dapat menjadi langkah penting untuk menemukan cara belajar, bekerja, dan menjalani kehidupan yang paling sesuai dengan kebutuhan masing-masing.