Jakarta, 5 September 2026 – Perum Bulog menggelar operasi pasar atau Gerakan Pangan Murah secara serentak di 113 titik di berbagai wilayah Indonesia sebagai langkah mengantisipasi kenaikan harga beras. Intervensi tersebut dilakukan dengan memperbesar pasokan langsung ke masyarakat agar ketersediaan komoditas tetap terjaga sekaligus mencegah harga bergerak semakin tinggi. Salah satu lokasi pelaksanaan berada di Pasar Jatinegara, Jakarta Timur, yang menjadi bagian dari pemantauan langsung jajaran Bulog pada Sabtu. Operasi pasar akan terus dilakukan selama harga beras dinilai masih membutuhkan intervensi. Bulog juga mengerahkan jajaran kantor wilayah dan cabang untuk memantau kondisi pasar di daerah masing-masing. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah menjaga stabilitas pangan di tengah dinamika harga menjelang akhir kuartal ketiga 2026.
Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani mengatakan operasi pasar akan dilaksanakan secara berkelanjutan apabila harga beras di tingkat konsumen masih mengalami tekanan. Bulog tidak hanya melakukan pemantauan, tetapi langsung menambah pasokan ketika ditemukan kebutuhan di lapangan. Intervensi diharapkan membuat masyarakat memperoleh beras dengan harga yang lebih terjangkau dan sesuai ketentuan pemerintah. Distribusi dilakukan melalui pasar tradisional, jaringan ritel, dan berbagai saluran penjualan lainnya. Bulog juga berkoordinasi dengan pedagang serta pengelola pasar untuk mengetahui perkembangan pasokan secara langsung. Dengan pola tersebut, tambahan beras dapat diarahkan menuju daerah yang mengalami kenaikan harga lebih cepat.
Pemantauan di sejumlah pasar Jakarta menunjukkan harga beras premium mulai bergerak melampaui Harga Eceran Tertinggi. Saat melakukan inspeksi di Pasar Rawamangun, Jakarta Timur, jajaran Bulog menemukan beras premium dijual sekitar Rp15.000 hingga Rp16.000 per kilogram. Angka tersebut berada di atas HET beras premium yang ditetapkan sebesar Rp14.900 per kilogram untuk wilayah terkait. Bahkan, salah satu varietas Pandan Wangi ditemukan dijual sekitar Rp17.500 per kilogram. Kondisi tersebut menjadi salah satu indikator penting bagi Bulog untuk memperkuat intervensi pasokan. Pergerakan harga akan terus dipantau agar kenaikan pada sejumlah jenis beras tidak berkembang menjadi tekanan yang lebih luas.
Di tengah kenaikan harga beras premium, pasokan beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan atau SPHP terpantau tetap tersedia. Pedagang di Pasar Rawamangun menyampaikan beras SPHP dapat diperoleh dengan harga sekitar Rp62.500 untuk kemasan lima kilogram. Keberadaan beras SPHP menjadi instrumen pemerintah untuk menyediakan alternatif beras dengan harga yang lebih terjangkau kepada masyarakat. Bulog akan memastikan pasokan produk tersebut tetap tersedia melalui berbagai jaringan distribusi. Apabila stok di suatu pasar mulai berkurang, penambahan pasokan dapat segera dilakukan berdasarkan hasil pemantauan lapangan. Ketersediaan beras SPHP diharapkan turut menahan tekanan harga pada segmen beras medium.
Selain SPHP, Bulog berencana memperbesar penyaluran beras premium miliknya ke pasar tradisional. Langkah tersebut dilakukan setelah ditemukan harga beras premium yang telah berada di atas HET pada sejumlah kios. Produk beras premium Bulog dapat menjadi tambahan pasokan sehingga konsumen memiliki lebih banyak pilihan ketika harga produk komersial mengalami kenaikan. Intervensi tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan volume beras di pasar, tetapi juga menciptakan keseimbangan antara pasokan dan permintaan. Semakin banyak pasokan tersedia, ruang bagi kenaikan harga akibat keterbatasan barang diharapkan dapat ditekan. Bulog akan menyesuaikan jumlah penyaluran dengan kondisi masing-masing daerah.
Kemampuan melakukan intervensi didukung stok beras Bulog yang saat ini berada di kisaran 4,9 juta ton. Cadangan tersebut menjadi modal penting untuk menjaga pasokan nasional sekaligus menghadapi potensi gejolak harga. Beras disimpan di jaringan gudang Bulog yang tersebar di berbagai wilayah sehingga dapat disalurkan berdasarkan kebutuhan daerah. Pengelolaan stok juga mempertimbangkan kelancaran distribusi agar daerah dengan kebutuhan tinggi tidak mengalami kekurangan pasokan. Bulog menilai ketersediaan stok yang besar harus diikuti kemampuan menyalurkannya secara cepat menuju konsumen. Karena itu, penguatan distribusi menjadi bagian penting dari operasi stabilisasi yang sedang dilakukan.
Operasi pasar di 113 titik juga melengkapi penyaluran SPHP yang telah berlangsung sepanjang tahun. Hingga awal Juli 2026, realisasi penyaluran beras SPHP telah mencapai sekitar 424.724 ton atau 51,3 persen dari target nasional sekitar 828 ribu ton. Penyaluran pada beberapa bulan sebelumnya bahkan melampaui target bulanan yang ditetapkan. Pada Juni, misalnya, distribusi mencapai lebih dari 106 ribu ton dan meningkat dibandingkan bulan sebelumnya. Peningkatan volume tersebut menunjukkan pemerintah menggunakan cadangan beras sebagai instrumen aktif untuk meredam tekanan harga. Distribusi terus diarahkan terutama menuju pasar tradisional serta wilayah yang mengalami kenaikan harga.
Bulog juga memperkuat koordinasi dengan pemerintah daerah, pedagang, pengelola pasar, dan jaringan ritel untuk menjaga kelancaran distribusi. Informasi dari lapangan diperlukan untuk mengetahui daerah yang mengalami kekurangan pasokan maupun kenaikan harga lebih cepat dibandingkan wilayah lainnya. Pola distribusi dapat kemudian disesuaikan sehingga intervensi tidak dilakukan secara seragam tanpa mempertimbangkan kondisi masing-masing daerah. Pemerintah juga terus memantau perkembangan harga pangan melalui koordinasi lintas lembaga. Pemantauan tersebut penting karena pergerakan harga dapat dipengaruhi produksi, distribusi, biaya transportasi, kondisi cuaca, hingga perubahan permintaan masyarakat. Intervensi pasokan menjadi salah satu instrumen yang digunakan ketika kenaikan harga mulai membutuhkan penanganan.
Stabilisasi harga beras memiliki arti penting karena komoditas tersebut mempunyai bobot besar dalam konsumsi rumah tangga dan perkembangan inflasi pangan. Kenaikan harga yang berlangsung dalam waktu panjang dapat meningkatkan pengeluaran masyarakat, terutama rumah tangga berpendapatan rendah yang mengalokasikan bagian cukup besar dari belanja mereka untuk kebutuhan makanan. Pemerintah karena itu berupaya menjaga keseimbangan antara kepentingan konsumen dan keberlanjutan produksi di tingkat petani. Operasi pasar diarahkan untuk meredam lonjakan harga yang berlebihan, bukan menghilangkan mekanisme pasar secara keseluruhan. Stok pemerintah memberikan ruang untuk melakukan intervensi ketika keseimbangan pasokan dan permintaan mulai terganggu. Distribusi yang tepat sasaran menjadi faktor penting agar kebijakan tersebut menghasilkan dampak yang diharapkan.
Bulog memastikan operasi pasar akan terus dilakukan selama indikator harga menunjukkan kebutuhan untuk intervensi. Pelaksanaan di 113 titik dapat menjadi bagian dari respons yang lebih luas apabila tekanan harga muncul di daerah lain. Dengan stok sekitar 4,9 juta ton, perusahaan menyatakan memiliki ruang untuk menambah pasokan melalui pasar rakyat, ritel modern, SPHP, dan saluran distribusi lainnya. Pemantauan lapangan juga akan terus dilakukan agar perubahan harga dapat diketahui lebih cepat dan direspons dengan penambahan pasokan. Bulog berharap langkah tersebut membuat masyarakat tetap memperoleh beras dengan harga yang wajar sekaligus menjaga ketersediaannya di berbagai daerah. Stabilitas pasokan dan harga akan menjadi fokus utama selama dinamika pasar beras masih berlangsung.